RA Pribadi's Blog

05/01/2019

Demi Waktu: Jangan Sia-siakan Hidup Ini

Filed under: karya tulis — novinoellisa @ 11:46

DEMI WAKTU: JANGAN SIA-SIAKAN HIDUP INI

(Dengan Mengharap Ridha Illahi ‘Hidayah’)

 

Disusun oleh : Novie Noellisa

Mahasiswa Program Studi Teknologi Pembelajaran

Peminatan Manajemen Pendidikan

Program Pascasarjana Untirta

 

Abstrak

Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk amal shalih. Allâh Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [al-‘Ashr/103:1-3]. Di dalam surat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa, dan ini menunjukkan pentingnya masa atau waktu. Sesungguhnya di dalam waktu terdapat keajaiban-keajaiban. Di dalam waktu terjadi kesenangan dan kesusahan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan. Jika seseorang menyian-nyiakan umurnya, seratus tahun berbuat sia-sia, bahkan kemaksiatan belaka, kemudian ia bertaubat di akhir hayatnya, dengan taubat yang diterima, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan sempurna sebagai balasannya, berada di dalam surga selama-lamanya. Dia betul-betul mengetahui bahwa waktu hidupnya yang paling berharga adalah sedikit masa taubatnya itu.

Sesungguhnya waktu merupakan anugerah Allâh Ta’ala, tidak ada cela padanya, manusia-lah yang tercela ketika tidak memanfaatkannya. Di antara bentuk kerugian ini adalah: (1). Seseorang tidak mengisi waktu luangnya dengan bentuk yang paling sempurna. Seperti menyibukkan waktu luangnya dengan amalan yang kurang utama, padahal ia bisa mengisinya dengan amalan yang lebih utama. (2). Dia tidak mengisi waktu luangnya dengan amalan-amalan yang utama, yang memiliki manfaat bagi agama atau dunianya. Namun kesibukkannya adalah dengan perkara-perkara mubah yang tidak berpahala. (3). Dia mengisinya dengan perkara yang haram, ini adalah orang yang paling tertipu dan rugi. Karena ia menyia-nyiakan kesempatan memanfaatkan waktu dengan perkara yang bermanfaat. Tidak hanya itu, bahkan ia menyibukkan waktunya dengan perkara yang akan menggiringnya kepada hukuman Allâh di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an menegaskannya dalam surat Al-Humazah 104: 1-9, sebagai berikut:

  • “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, 
  • yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. 
  • Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya
  •  Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. 
  • Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
  • (yaitu) api (yang disediakan) Allâh yang dinyalakan, 
  • yang (membakar) sampai ke hati.
  • Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, 
  • (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang” [Al-Humazah/104:1-9].

Problemnya adalah bila hati ingin merubah diri untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sesuai dengan petunjuk Allah SWT, tetapi terbelengu oleh situasi dan kondisi sistem sosial dimana kita hidup?, maka ada dua cara, yaitu pertama meluruskan niat dengan penuh kesadaran sebagai hamba yang memiliki fitrah untuk memilih kesenangan duniawi (do’if), kedua, mengharap pertolongan Allah kepada hambanya yang disebut hidayah.

Kata kunci : masa atau waktu, ridha, Illahi, dan hidayah 

 

Pengantar
Sejak awal kehadirannya, Islam telah memperkenalkan hakekakat manusia sebagaimana yang tercermin dalam konsep Fitrah-nya. Namun sampai kini masih tersisa pertanyaan dikalangan kita, apa hakikat fitrah itu sebenarnya. Para ahli telah membahas pengertian fitrah ini dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dari perbedaan pandangan dan pendekatan dicoba ditelusuri makna fitrah yang sesungguhnya. Perbedaan pandangan yang ada itu, ternyata masing-masing berdiri dan berpijak pada argumen yang kuat, sehingga berbagai argumen defenitif itu mengarah pada pengertian yang sama. Dengan merujuk pada salah satu ayat Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (Q.S. Ar-Rum, 30: 30)

Terdapat berbagai argumen yang lahir dari penafsiran ayat tersebut, antara lain:

a. Fitrah Berarti Suci (Thuhr)

Menurut al-Qurtubi, t. th ; 5106), fitrah berarti kesucian, dalam jasmani dan rohani. Akan tetapi dalam konteks pendidikan, kesucian adalah kesucian dari dosa waris atau dosa asal, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ismail Raji al-Faruqi (1988; 68) bahwa:

Manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih dan dapat menyusun drama kehdidupannya, tak peduli dengan lingkungan, masyarakat, dari keluarga macam apapun dia dilahirkan. Islam menyangkal setiap gagasan mengenai dosa asal, dosa waris, dan tanggungjawab penebusan serta keterlibatannya dalam kesukuan, nasional maupun internasional”.

Dengan demikian sangat tidak beralasan kalau konsep tabulrasa dari aliran behaviorisme, prakarsa Jhon Locke, yang mengatakan bahwa manusia itu lahir tidak mempunyai kecenderungan baik maupun buruk (netral).

b. Fitrah Berarti Islam (Dienul Islam)

Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama. Namun pemaknaan al-Islam menurut Abu Said al-Khudri, sebagaimana yang ditulis oleh Al-Qurtubi dalam tafsirnya tidaklah tepat, sebab kalau manusia lahir dengan bawaan agama Islam, mengapa pada tahap berikutnya terdapat banyak manusia yang menjadi kafir, dan mengapa pula dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa ada satu kaum yang khusus diciptakan oleh Allah SWT untuk menjadi penghuni neraka. Allah berfirman:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah) mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raf, 7: 179)

c. Fitrah Berarti Mengakui Ke-Esa-an Allah (At-Tauhid)

Manusia lahir dengan membawa konsep tauhid, atau paling tidak mempunyai kecenderungan untuk meng-Esa-kan Tuhannya dan mencari secara terus-menerus untuk mencapai ketauhidan tersebut. Jiwa tauhid adalah jiwa yang selaras dengan rasio manusia, penolakan terhadap politeisme bukan saja merupakan pembawaan, tetapi lebih dari itu, merupakan rangkaian analisis dari fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta baik secara mikro maupun secara makro.

Secara kodrati, sebagaimana yang ditulis oleh Muhaimin dan Mujib (1993: 15) manusia telah menemukan tauhid walaupun masih dalam kapasitasnya yang immaterial (alam roh). Hal ini terjadi dari konsensus antara Allah SWT, dan roh yang selanjutnya menjadi konstitusi umum. Sebagian mufassir memadukan makna fitrah dengan al-Islam dan at-Tauhid sebagai upaya kompergensi terhadap pemaknaan fitrah di atas. Dari sekian banyak makna fitrah yang telah dikemukakan oleh para ahli, sengaja penulis hadirkan karena potensi dasar untuk mendapatkan hidayah dari Allah SWT, ternyata sudah ada pada setiap manusia, baik yang kelak tetap menjadi muslim, maupun yang kemudian menjadi orang-orang kafir dan pembangkan terhadap perintah Allah. Dari paparan latar belakang yang telah dikemukakan, teridentifikasi dua permasalahan yang dapat dibahas dalam tulisan ini, yaitu ; Pertama, ada berapa jenis hidayah yang dikenal dalam Islam. Kedua bagaimana fungsi hidayah dalam Islam. Dua hal tersebut menjadi pijakan awal untuk mengetahui jenis-jenis hidayah yang dikenal dalam Islam dan fungsi hidayah itu sendiri bagi seorang muslim.

Bagaimanakah ciri-ciri mereka yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT?

Seperti yang dijelaskan pada ayat di atas bahwasannya hidayah hanya diberikan Allah SWT kepada mereka yang Dia kehendaki, dan tanda-tanda atau ciri dari orang yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT antara lain adalah :

  • Orang tersebut begitu mudah dalah hal beramal sholeh, di mana hatinya telah terbuka untuk menerima Islam, taat dalam beribadah serta menuntut ilmu
  • Memiliki semangat yang tinggi dalam rangka mempelajari serta memahami ajaran agama islam
  • Selalu merasa rindu untuk berjumpa dengan Allah SWT
  • Selalu beristiqomah (konsisten) dama menjalankan ibadah
  • Ketika sedang menghadapi cobaan, maka orang tersebut akan bersabar dan tetap bersyukur kepada Allah SWT

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya untuk mengingatkan beliau tentang nikmat ini:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.S. Asy-Syura, 42: 52)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (Q.S. Ad-Dhuha, 93: 7)

Di dalam Al-Shahihaini dari Abdullah bin Zaid bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alai wasallam berkata kepada kaum Anshor: Tidakkah aku mendapati kalian tenggelam dalam kesesatan lalu Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah kepada kalian karena aku?

Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan nikmat ini kepada para penghuni surga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (Q.S. Al-A’raaf, 7: 43)

Makna Dan Hakikat Hidayah Allah

Berbicara tentang hidayah berarti membahas perkara yang paling penting dan kebutuhan yang paling besar dalam kehidupan manusia. Betapa tidak, hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat).” (Q.S. Al-A’raaf, 7: 178)

Dalam ayat lain, Dia Ta’ala juga berfirman:

مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (Q.S. Al-Kahf, 18: 17)

Definisi hidayah dari segi bahasa ialah lawan kepada sesat atau kesesatan iaitu dengan makna memberi penerangan, petunjuk, penjelasan dan suluhan.

Manakala dari segi istilah pula para ulama memberikan pengertian yang berbagai-bagai apabila merujuk kepada al-huda. Al-Azhari berkata al-huda ialah “mengeluarkan sesuatu keada sesuatu”. Al-Raghib al-Asfahani mendefinisikannya sebagai “memberi petunjuk secara halus”. Ibn Qayyim al-Jauziyyah pula mentakrifkannya dengan “mengetahui kebenaran dan beramal dengannya”

Daripada definisi yang dinyatakan di atas boleh dirumuskan bahawa hidayah ialah cetusan halus yang dicampakkan Allah SWT menyerap masuk ke lubuk hati seseorang sehingga memiliki kekuatan dan mampu untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan diri demi kepentingan hidup di akhirat.

Al-Huda di dalam Al-Quran

Lazimnya kalimah yang sering disebut di dalam Al-Quran apabila merujuk kepada hidayah ialah al-Huda. Kalimah tersebut banyak digunakan kerana Al-Quran itu sendiri merupakan kitab hidayah. Ia dibawa dalam pelbagai bentuk kalimah fi’il (perbuatan) atau isim (kata nama). Seawal surah yang pertama, Al-Fatihah ayat 6, telah disebutkan tentang hidayah dalam bentuk uslub al-du’a yang bermaksud:

(Ya Allah) kurniakanlah kami hidayah jalan yang lurus”

Diikuti pula dengan surah kedua, Al-Baqarah ayat 2, Allah SWT membuat perisytiharan bahawa Al-Quran sebagai sumber utama hidayah. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Kitab Al-Quran ini tidak ada sebarang syak padanya (tentang datangnya dari Allah dan tentang kesempurnaannya), ia pula menjadi hidayah bagi orang-orang yang hendak bertakwa.”

Sekurang-kurangnya terdapat 264 ayat Al-Quran yang menyebutkan tentang hidayah ini. Malah kalimah ini boleh dikatakan terkandung dalam setiap surah di dalam Al-Quran

Kebutuhan Manusia kepada Hidayah Allah Ta’ala

Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita dalam setiap rakaat shalat untuk selalu memohon kepada-Nya hidayah ke jalan yang lurus di dalam surah al-Fatihah yang merupakan surah yang paling agung dalam Al-Qur-an1, karena sangat besar dan mendesaknya kebutuhan manusia terhadap hidayah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Seorang hamba senantiasa kebutuhannya sangat mendesak terhadap kandungan doa (dalam ayat) ini, karena sesungguhnya tidak ada keselamatan dari siksa (Neraka) dan pencapaian kebahagiaan (yang abadi di Surga) kecuali dengan hidayah (dari Allah Ta’ala) ini. Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan hidayah ini berarti dia termasuk orang-orang yang dimurkai oleh Allah (seperti orang-orang Yahudi) atau orang-orang yang tersesat (seperti orang-orang Nashrani)”2.

Lebih lanjut, Imam Ibnul Qayyim memaparkan hal ini dengan lebih terperinci, beliau berkata: “Seorang hamba sangat membutuhkan hidayah di setiap waktu dan tarikan nafasnya, dalam semua (perbuatan) yang dilakukan maupun yang ditinggalkannya. Karena hamba tersebut berada di dalam beberapa perkara yang dia tidak bisa lepas darinya:

  • Yang pertama; perkara-perkara yang dilakukannya (dengan cara) yang tidak sesuai dengan hidayah (petunjuk Allah Ta’ala) karena kebodohannya, maka dia butuh untuk memohon hidayah Allah kepada kebenaran dalam perkara-perkara tersebut.
  • Atau dia telah mengetahui hidayah (kebenaran) dalam perkara-perkara tersebut, akan tetapi dia mengerjakannya (dengan cara) yang tidak sesuai dengan hidayahsecara sengaja, maka dia butuh untuk bertaubat dari (kesalahan) tersebut.
  • Atau perkara-perkara yang dia tidak mengetahui segi hidayah (kebenaran) padanya, baik dalam ilmu dan amal, sehingga luput darinya hidayah untuk mengenal dan mengetahui perkara-perkara tersebut (secara benar), serta untuk meniatkan dan mengerjakannya.
  • Atau perkara-perkara yang dia telah mendapat hidayah (kebenaran) padanya dari satu sisi, tapi tidak dari sisi lain, maka dia butuh kesempurnaan hidayah padanya.
  • Atau perkara-perkara yang dia telah mendapat hidayah (kebenaran) padanya secara asal (garis besar), tapi tidak secara detail, sehingga dia butuh hidayah (pada) perincian (perkara-perkara tersebut).
  • Atau jalan (kebenaran) yang dia telah mendapat hidayah kepadanya, tapi dia membutuhkan hidayah lain di dalam (menempuh) jalan tersebut. Karena hidayah (petunjuk) untuk mengetahui suatu jalan berbeda dengan petunjuk untuk menempuh jalan tersebut. Bukankah anda pernah mendapati seorang yang mengetahui jalan (menuju) kota tertentu yaitu jalur ini dan itu, akan tetapi dia tidak bisa menempuh jalan tersebut (tidak bisa sampai pada tujuan)? Karena untuk menempuh perjalanan itu sendiri membutuhkan hidayah (petunjuk) yang khusus, contohnya (memilih) perjalanan di waktu tertentu dan tidak di waktu lain, mengambil (persediaan) di tempat tertentu dengan kadar yang tertentu, serta singgah di tempat tertentu (untuk beristirahat) dan tidak di tempat lain. Petunjuk untuk menempuh perjalanan ini terkadang diabaikan oleh orang yang telah mengetahui jalur suatu perjalanan, sehingga (akibatnya) diapun binasa dan tidak bisa mencapai tempat yang dituju.
  • Demikian pula perkara-perkara yang dia butuh untuk mendapatkan hidayah dalam mengerjakannya di waktu mendatang sebagaimana dia telah mendapatkannya di waktu yang lalu.
  • Dan perkara-perkara yang dia tidak memiliki keyakinan benar atau salahnya (perkara-perkara tersebut), maka dia membutuhkan hidayah (untuk mengetahui mana yang) benardalam perkara-perkara tersebut.
  • Dan perkara-perkara yang dia yakini bahwa dirinya berada di atas petunjuk (kebenaran) padanya, padahal dia berada dalam kesesatan tanpa disadarinya, sehingga dia membutuhkan hidayah dari Allah untuk meninggalkan keyakinan salah tersebut.
  • Dan perkara-perkara yang telah dikerjakannya sesuai dengan hidayah (kebenaran), tapi dia butuh untuk memberi bimbingan, petunjuk dan nasehat kepada orang lain untuk mengerjakan perkara-perkara tersebut (dengan benar). Maka ketidakperduliannya terhadap hal ini akan menjadikannya terhalang mendapatkan hidayah sesuai dengan (kadar) ketidakperduliannya, sebagaimana petunjuk, bimbingan dan nasehatnya kepada orang lain akan membukakan baginya pintu hidayah, karena balasan (yang Allah Y berikan kepada hamba-Nya) sesuai dengan jenis perbuatannya”3.

Oleh karena itu, Imam Ibnu Katsir ketika menjawab pertanyaan sehubungan dengan makna ayat di atas: bagaimana mungkin seorang mukmin selalu meminta hidayah di setiap waktu, baik di dalam shalat maupun di luar shalat, padahal dia telah mendapatkan hidayah, apakah ini termasuk meminta sesuatu yang telah ada pada dirinya atau tidak demikian?

Imam Ibnu Katsir berkata: “Jawabannya: tidak demikian, kalaulah bukan karena kebutuhan seorang mukmin di siang dan malam untuk memohon hidayah maka Allah tidak akan memerintahkan hal itu kepadanya. Karena sesungguhnya seorang hamba di setiap waktu dan keadaan sangat membutuhkan (pertolongan) Allah Ta’ala untuk menetapkan dan meneguhkan dirinya di atas hidayah-Nya, juga membukakan mata hatinya, menambahkan kesempurnaan dan keistiqamahan dirinya di atas hidayah-Nya.Sungguh seorang hamba tidak memiliki (kemampuan memberi) kebaikan atau keburukan bagi dirinya sendiri kecuali dengan kehendak-Nya, maka Allah Ta’alamembimbingnya untuk (selalu) memohon kepada-Nya di setiap waktu untuk menganugerahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan taufik-Nya. Oleh karena itu, orang yang beruntung adalah orang yang diberi taufik oleh Allah Ta’alauntuk (selalu) memohon kepadanya, karena Allah Ta’ala telah menjamin pengabulan bagi orang yang berdoa jika dia memohon kepada-Nya, terutama seorang yang sangat butuh dan bergantung kepada-Nya (dengan selalu bersungguh-sungguh berdoa kepada-Nya) di waktu-waktu malam dan di tepi-tepi siang”4.

Makna, Hakikat, dan Macam-macam Hidayah

Hidayah secara bahasa berarti ar-rasyaad (bimbingan) dan ad-dalaalah (dalil/petunjuk)5.

Adapun secara syar’i, maka Imam Ibnul Qayyim membagi hidayah yang dinisbatkan kepada Allah Ta’ala menjadi empat macam:

1. Hidayah yang bersifat umum dan diberikan-Nya kepada semua makhluk, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya:

قَال َرَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى

Musa berkata: “Rabb kami (Allah Ta’ala) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (Q.S. Thaahaa, 20: 50)

Inilah hidayah (petunjuk) yang Allah Ta’ala berikan kepada semua makhluk dalam hal yang berhubungan dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup mereka dalam urusan-urusan dunia, seperti melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menjauhi hal-hal yang membinasakan untuk kelangsungan hidup di dunia.

2. Hidayah (yang berupa) penjelasan dan keterangan tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, serta jalan keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah ini tidak berarti melahirkan petunjuk Allah yang sempurna, karena ini hanya merupakan sebab atau syarat, tapi tidak mesti melahirkan (hidayah Allah Ta’ala yang sempurna). Inilah makna firman Allah:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى

Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk.” (Q.S. Fushshilat, 41: 17)

Artinya: Kami jelaskan dan tunjukkan kepada mereka (jalan kebenaran) tapi mereka tidak mau mengikuti petunjuk.

Hidayah inilah yang mampu dilakukan oleh manusia, yaitu dengan berdakwah dan menyeru manusia ke jalan Allah, serta menjelaskan kepada mereka jalan yang benar dan memperingatkan jalan yang salah, akan tetapi hidayah yang sempurna (yaitu taufik) hanya ada di tangan Allah Ta’ala, meskipun tentu saja hidayah ini merupakan sebab besar untuk membuka hati manusia agar mau mengikuti petunjuk Allah Ta’ala dengan taufik-Nya.

Allah Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus.” (Q.S. Asy-Syuuraa, 42: 52).

3. Hidayah taufik, ilham (dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar) dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala. Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya:

فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ

Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. Faathir, 35: 8)

Dan firman-Nya:

إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Jika engkau (wahai Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak mempunyai penolong.” (Q.S. An-Nahl, 16: 37)

Juga firman-Nya:

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. Al-Qashash, 28: 56)

Maka dalam ayat ini Allah menafikan hidayah ini (taufik) dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan menetapkan bagi beliau Shallallahu’alaihi Wasallam hidayah dakwah (bimbingan/ajakan kepada kebaikan) dan penjelasan dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (Q.S. Asy-Syuuraa, 26: 52)

4. Puncak hidayah ini, yaitu hidayah kepada Surga dan Neraka ketika penghuninya digiring kepadanya.

Allah Ta’ala berfirman tentang ucapan penghuni Surga:

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ

Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga) kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami.” (Q.S. Al-A’raaf, 7: 43)

Adapun tentang penghuni Neraka, Allah Ta’ala berfirman:

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ. مِنْ دُونِ اللهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ

Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman-teman yang bersama mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka.” (Q.S. Ash-Shaaffaat, 37: 22-23)”6

Dari sisi lain, Imam Ibnu Rajab al-Hambali membagi hidayah menjadi dua:

  1. Hidayah yang bersifat mujmal (garis besar/global), yaitu hidayah kepada agama Islam dan iman, yang ini dianugerahkan-Nya kepada setiap muslim.
  2. Hidayah yang bersifat rinci dan detail, yaitu hidayah untuk mengetahui perincian cabang-cabang imam dan islam, serta pertolongan-Nya untuk mengamalkan semua itu. Hidayah ini sangat dibutuhkan oleh setiap mukmin di siang dan malam”7.

Kepentingan Hidayah

Manusia tidak diciptakan Allah dengan tanpa tujuan. Bahkan Allah SWT telah menentukan matlamat hidup manusia untuk beribadat kepada-Nya. Melaksanakan apa yang disuruh merangkumi ketaatan dan kepatuhan kepada syariat Allah dalam segenap aspek kehidupan dan urusan hidup. Manusia adalah Khalifah Allah di muka bumi. Justeru manusia bertanggungjawab memakmurkan buminya ini dengan segala kebaikan bukan memusnahkannya. Ini adalah amanah dari-Nya. Orang yang berjaya akan bergembira manakala golongan yang rugi akan dibalas dengan azab yang setimpal.

Allah SWT Maha Penyayang. Bagi mendapat maksud tersebut, Allah SWT tidak membiarkan manusia sendirian dan meraba-raba dalam kegelapan. Dilengkapi manusia dengan akal. Ia adalah sebahagian hidayah kurniaan-Nya.

Kitab Al-Quran diisytiharkan oleh Allah SWT sebagai kitab hidayah untuk manusia. Ia adalah sumber panduan utama kepada manusia untuk mendapat hidayah daripada Allah mengikut tingkatan dan martabatnya.

Jenis dan Tingkatan Hidayah

Secara umum, hidayah dapat dikategorikan kepada dua jenis utama iaitu hidayah umum berupa hidayah yang diberikan Allah SWT kepada semua makhluk-Nya untuk kemaslahatan hidup asas. Kedua ialah hidayah khusus yang diberikan Allah SWT khusus kepada manusia pilihan-Nya demi kepentingan hidupnya di akhirat. Ulama telah membahagikan tingkatan hidayah kepada 5 bahagian iaitu:

Hidayah Al-Ilham Al-Fitriy (Ilham Secara Fitrah)

Nikmat hidayah ini dikurniakan Allah SWT kepada manusia dan haiwan sejak ia dilahirkan lagi. Firman Allah SWT dalam yang bermaksud:

Bertasbihlah mensucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (dari segala sifat-sifat kekurangan). Yang telah menciptakan (sekalian makhluk-Nya) serta menyempurnakan kejadiannya dengan kelengkapan yang sesuai dengan keadaannya. Dan yang telah mengatur (keadaan makhluk-makhluk-Nya) serta memberikan hidayat petunjuk (ke jalan keselamatannya dan kesempurnaannya).” (Q.S. A-A’la, 87: 1-3).

Hidayah Al-Hawas (Pancaindera)

Yaitu hidayah yang dinikmati melalui pancaindera yang lima iaitu pendengaran, penglihatan, sentuhan, rasa dan bau. Ia adalah pelengkap kepada tingkatan hidayah yang pertama. Manusia dan hewan serta serangga berkongsi dua hidayah pertama ini. Ibn Qayyim menjelaskan hakikat ini berasaskan kepada kisah Nabi Sulaiman dan semut sepertimana dirakamkan oleh Allah SWT dalam surah An-Naml ayat 18 dan 19.

Hidayah Al-‘Aql (Akal)

Merupakan hidayah tertinggi jika dibandingkan dengan dua hidayah yang pertama. Ia hanya diberikan kepada makhluk manusia kerana manusia adalah makhluk yang berkembang dan bertamadun. Manusia diberikan hidayah akal untuk menghadapi segala pancaroba hidup, membantu menyelamatkan diri daripada terjerumus ke dalam lembah penyelewengan dan kesesatan, membimbing naluri dan deria, serta memperbaiki kesalahan dan kesilapan yang didorong oleh kedua-duanya. Al-Quran kerap kali menggesa manusia berpikir dengan menggunakan lafaz (يعقلون atau تعقلون). Bagaimana manusia boleh berfikir jika tidak diberikan kemudahan akal dan potensinya? Firman Allah SWT di dalam surah al-Baqarah, ayat 44 yang bermaksud:

“Patutkah kamu menyuruh manusia supaya berbuat kebaikan sedang kamu lupa akan diri kamu sendiri; padahal kamu semua membaca Kitab Allah, tidakkah kamu berakal?”

Imam al-Alusi menjelaskan bahawa ayat ini adalah sindiran tajam Allah SWT kepada ahli al-Kitab yang gagal memanfaatkan potensi akal secara jujur dan benar sehingga mereka berterusan berada di landasan kesesatan dan berusaha pula mempertahankan kesesatan tersebut.

Hidayah Ad-Din (Al-Islam)

Hidayah akal besar kemungkinan jika berlaku salah dan silap seterusnya mendorong seseorang terjerumus ke lembah kehinaan nafsu syahwat dan keseronokan dunia. Justeru, Allah SWT membentangkan hidayah Ad-Din kepada manusia untuk direbut. Ad-Din disini ialah agama dan syariat Islam. Ia tidak sekali-kali akan tersalah. Hidayah ini adalah hidayah yang khusus. Tidak semua manusia diberikan hidayah ini. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Maka sesiapa yang Allah kehendaki untuk memberi hidayah kepadanya nescaya Dia melapangkan dadanya (membuka hatinya) untuk menerima Islam.” (Q.S. Al-An’am, 6: 125)

Hidayah Al-Ma’unah dan Al-Taufiq ke Jalan Kejayaan dan Syrga di Akhirat

Merupakan hidayah yang lebih khusus daripada hidayah Ad-Din. Ia adalah khusus dan hak mutlak Allah SWT. Dia tidak memberikan kuasa memberikan hidayah ini kepada sesiapapun jua. Dia telah menafikan kuasa tersebut ada pada Nabi Muhammad SAW. Bahkan hidayah inilah yang diucapkan oleh ahli surga. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Dan mereka pula bersyukur dengan berkata: Segala puji tertentu bagi Allah yang telah memberi hidayah petunjuk untuk (mendapat nikmat-nikmat) ini, padahal Kami tidak sekali-kali memperoleh petunjuk kalau Allah tidak memimpin kami (dengan taufik-Nya)(Q.S. Al-A’raf, 7: 43).

Al-Raghib Al-Asfahani menyatakan hidayah-hidayah ini berlaku secara tertib. Jika seseorang itu tidak berhasil mendapatkan hidayah Al-‘Aql, dia tidak akan mendapat hidayah berikutnya. Begitu juga jika seseorang tidak mendapat hidayah Ad-Din, dia pasti tidak akan mendapat hidayah At-Taufik. Sebaliknya jika sesorang telah mendapat hidayah al-Din bererti dia telah memperoleh hidayah-hidayah sebelumnya.

5 Perkara yang Bisa Mendatangkan Hidayah

Banyak orang berharap mendapatkan hidayah agar dirinya bisa berbuat baik atau mematuhi perintah Allah SWT. Namun mereka lupa untuk berusaha mendapat hidayah tersebut. Banyak jalan dan cara untuk menjemput hidayah, dengan syarat kita tidak malas mencarinya. Berikut perkara yang bisa mendatangkan hidayah, seperti dikutip dari Forum Salafy.

1. Berpegang Teguh kepada Agama Allah (Islam)

Allah SWT berfirman:

“Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.S. Ali Imran, 3: 101)

Ibnu Katsir ra menjelaskan “Berpegang teguh kepada Agama Allah SWT dan bertawakal kepada-Nya merupakan pegangan dalam hidayah, bekal untuk menjauhi kesesatan, sarana menuju jalan petunjuk, jalan yang lurus, dan tercapainya cita-cita.”

2. Bersungguh-sungguh Menimba Ilmu Agama

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-’Ankabut, 29: 69)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan ayat di atas, “(Ayat tersebut) juga menunjukkan bahwa orang yang bersemangat dan bersungguh-sungguh menimba ilmu agama, dia akan mendapatkan hidayah dan pertolongan dari Allah SWT untuk menggapai apa yang dicarinya. Pertolongan ini berbentuk petunjuk-petunjuk Ilahi yang di luar batas kesungguhan seseorang dan kemudahan-kemudahan menggapai ilmu.” (Tafsir al-Karim ar-Rahman).

3. Menjalankan Sunnah Rasulullah dan Menjauhi Apa-apa yang Dilarangnya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (Q.S. An-Nur, 24: 54)

4. Meneladani salafush shalih yang berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk ….” (Q.S. Al-Baqarah, 2: 137)

Maksudnya, tidak ada jalan bagi ahli kitab untuk mendapatkan hidayah melainkan dengan keimanan kepada apa yang diimani oleh para sahabat—kaum Mukminin yang ada pada masa itu—yaitu keimanan kepada segenap Nabi dan Rasul, tidak membedakan di antara mereka, juga beriman kepada kitab-kitab suci yang diturunkan kepada mereka (Taisir al-Karim ar-Rahman).

5. Mengikuti bimbingan Ulama As-Sunnah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Orang yang beriman itu berkata, “Wahai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.” (Q.S. Ghafir, 40: 38)

Hidayah adalah sesuatu yang sangat berharga, karenanya hidayah tak akan ada di sembarang tempat kecuali kita berupaya untuk mendapatkannya. Wallahualam.

Golongan yang Tidak Mendapat Hidayah

Berdasarkan ayat-ayat Al-Quran terdapat tiga golongan manusia yang terhalang dari mendapat hidayah Allah SWT. Mereka itu ialah orang-orang kafir, fasik dan zalim. Allah s.w. menyatakan bahawa Dia tidak akan memberikan hidayah kepada mereka yang bersifat sedemikian. Hidayah yang dimaksudkan disini ialah hidayah kepada iman.

Dikarenakan inti dan hakikat hidayah adalah taufik dari Allah Ta’ala, sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, maka berdoa dan memohon hidayah kepada Allah Ta’ala merupakan sebab yang paling utama untuk mendapatkan hidayah-Nya. Dalam hadits Qudsi yang shahih, Allah Ta’ala berfirman:

Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian.1

Oleh karena itu, Allah Ta’ala yang maha sempurna rahmat dan kebaikannya, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berdoa memohon hidayah taufik kepada-Nya, yaitu dalam surah Al Fatihah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus.

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Doa (dalam ayat ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepada-Nya dengan doa ini di setiap rakaat dalam shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat besar terhadap hal tersebut.”2

Dalam banyak hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita doa memohon hidayah kepada Allah Ta’ala. Misalnya doa yang dibaca dalam qunut shalat witir:

اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْت

Ya Allah, berikanlah hidayah kepadaku di dalam golongan orang-orang yang Engkau berikan hidayah.3

Juga doa beliau Shallallahu’alaihi Wasallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu).”4

Sebaliknya, keengganan atau ketidaksungguhan untuk berdoa kepada Allah Ta’ala memohon hidayah-Nya merupakan sebab besar yang menjadikan seorang manusia terhalangi dari hidayah-Nya.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala sangat murka terhadap orang yang enggan berdoa dan memohon kepada-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

Sesungguhnya barangsiapa yang enggan untuk memohon kepada Allah maka Dia akan murka kepadanya5.

Hal-hal lain yang menjadi sebab datangnya hidayah Allah Ta’ala selain yang dijelaskan di atas adalah sebagai berikut:

1. Tidak Bersandar kepada Diri Sendiri dalam Melakukan Semua Kebaikan dan Meninggalkan Segala Keburukan

Artinya selalu bergantung dan bersandar kepada Allah Ta’ala dalam segala sesuatu yang dilakukan atau ditinggalkan oleh seorang hamba, serta tidak bergantung kepada kemampuan diri sendiri.

Ini merupakan sebab utama untuk meraih taufik dari Allah Ta’ala yang merupakan hidayah yang sempurna, bahkan inilah makna taufik yang sesungguhnya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus sunnah.

Coba renungkan pemaparan Imam Ibnul Qayyim berikut ini: “Kunci pokok segala kebaikan adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri.

Telah bersepakat Al ‘Aarifun (orang-orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah taufik dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua keburukan adalah khidzlaan (berpalingnya) Allah Ta’ala dari hamba-Nya. Mereka juga bersepakat bahwa (makna) taufik itu adalah dengan Allah tidak menyandarkan (urusan kebaikan/keburukan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya arti) al khidzlaan (berpalingnya Allah Ta’ala dari hamba) adalah dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak bersandar kepada Allah Ta’ala)”6.

Inilah yang terungkap dalam doa yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “(Ya Allah), jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata”7.

Oleh karena inilah makna dan hakikat taufik, maka kunci untuk mendapatkannya adalah dengan selalu bersandar dan bergantung kepada Allah Ta’ala dalam meraihnya dan bukan bersandar kepada kemampuan diri sendiri.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Kalau semua kebaikan asalnya (dengan) taufik yang itu adanya di tangan Allah (semata) dan bukan di tangan manusia, maka kunci (untuk membuka pintu) taufik adalah (selalu) berdoa, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, (selalu) berharap dan takut (kepada-Nya). Maka ketika Allah telah memberikan kunci (taufik) ini kepada seorang hamba, berarti Dia ingin membukakan (pintu taufik) kepadanya.Dan ketika Allah memalingkan kunci (taufik) ini dari seorang hamba, berarti pintu kebaikan (taufik) akan selalu tertutup baginya”8.

2. Selalu Mengikuti dan Berpegang Teguh dengan Agama Allah Ta’ala Secara Keseluruhan Lahir dan Batin

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى

Maka jika datang kepadamu (wahai manusia) petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara (dalam hidupnya).” (Q.S. Thaahaa, 20: 123)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang yang mengikuti dan berpegang teguh dengan petunjuk Allah Ta’ala yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya Ta’ala, dengan mengikuti semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, maka dia tidak akan tersesat dan sengsara di Dunia dan Akhirat, bahkan dia selalu mendapat bimbingan petunjuk-Nya, kebahagiaan dan ketentraman di Dunia dan Akhirat9.

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

Dan orang-orang yang selalu mengikuti petunjuk (agama Allah Ta’ala) maka Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya.” (Q.S. Muhammad, 47: 17)

3. Membaca al-Qur-an dan Merenungkan Kandungan Maknanya

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS al-Israa’, 17: 9)

Imam Ibnu Katsir berkata: “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji kitab-Nya yang mulia yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya Ta’ala, yaitu al-Qur-an, bahwa kitab ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan jelas”10.

Maksudnya: yang paling lurus dalam tuntunan berkeyakinan, beramal dan bertingkah laku, maka orang yang selalu membaca dan mengikuti petunjuk al-Qur-an, dialah yang paling sempurna kebaikannya dan paling lurus petunjuknya dalam semua keadaannya11.

4. Mentaati dan Meneladani Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Allah Ta’ala menamakan wahyu yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai al-huda (petunjuk) dan dinul haq (agama yang benar) dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Dialah (Allah Ta’ala) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Q.S. Al-Fath, 48: 28)

Para ulama Ahli Tafsir menafsirkan al-huda (petunjuk) dalam ayat ini dengan ilmu yang bermanfaat dan dinul haq (agama yang benar) dengan amal shaleh12.

Ini menunjukkan bahwa sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah sebaik-baik petunjuk yang akan selalu membimbing manusia untuk menetapi jalan yang lurus dalam ilmu dan amal.

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitab Allah (Al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (baru dalam agama)”13.

Inilah makna firman Allah Ta’ala:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzaab, 33: 21)

5. Mengikuti Pemahaman dan Pengamalan Para Sahabat Radhiallahu’anhum dalam Beragama

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan.” (Q.S. Al-Baqarah, 2: 137)

Ayat ini menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman para Shahabat Radhiallahu’anhum dalam keimanan, ibadah, akhlak dan semua perkara agama lainnya, karena inilah sebab untuk mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala. Para Shahabat Radhiallahu’anhum adalah yang pertama kali masuk dalam makna ayat ini, karena merekalah orang-orang yang pertama kali memiliki keimanan yang sempurna setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam14.

6. Meneladani Tingkah Laku dan Akhlak Orang-orang yang Shaleh Sebelum Kita

Allah Ta’ala berfirman:

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Q.S. Al-An’aam, 6: 90)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad Ta’ala untuk meneladani petunjuk para Nabi ‘alaihimussalam yang diutus sebelum beliau Ta’ala, dan ini juga berlaku bagi umat Nabi Muhammad Ta’ala15.

7. Mengimani Takdir Allah Ta’ala dengan Benar

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. At-Taghaabun, 64: 11)

Imam Ibnu Katsir berkata: “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya”16.

8. Berlapang Dada Menerima Keindahan Islam serta Meyakini Kebutuhan Manusia Lahir dan Batin Terhadap Petunjuknya yang Sempurna

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk Allah berikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (Q.S. Al-An’aam, 6: 125).

Ayat ini menunjukkan bahwa tanda kebaikan dan petunjuk Allah Ta’ala bagi seorang hamba adalah dengan Allah Ta’ala menjadikan dadanya lapang dan lega menerima Islam, maka hatinya akan diterangi cahaya iman, hidup dengan sinar keyakinan, sehingga jiwanya akan tentram, hatinya akan mencintai amal shaleh dan jiwanya akan senang mengamalkan ketaatan, bahkan merasakan kelezatannya dan tidak merasakannya sebagai beban yang memberatkan17.

9. Bersungguh-sungguh dalam Menempuh Jalan Allah Ta’ala dan Selalu Berusaha Mengamalkan Sebab-sebab yang Mendatangkan dan Meneguhkan Hidayah Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Al-‘Ankabuut, 29: 69)

Imam Ibnu Qayyimil Jauziyah berkata: “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari Allah Ta’ala) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya”18.

Demikianlah pemaparan ringkas tentang sebab-sebab datangnya hidayah Allah Ta’ala, dan tentu saja kebalikan dari hal-hal tersebut di atas itulah yang merupakan sebab-sebab hilangnya/tercabutnya hidayah Allah Ta’ala, semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari segala keburukan dan fitnah.

Kesimpulan

Hidayah adalah sesuatu yang amat berharga dan tinggi nilainya dalam kehidupan manusia umumnya dan muslim khususnya. Seseorang yang dikurniakan hidayah di dunia ini bererti kebahagiaan hidupnya yang sejati telah hampir sempurna dan jika dikehendaki Allah akan disempurnakan di akhirat kelak. Justeru, seseorang perlu berusaha gigih bagi mendapatkan hidayah agar tetap di dalam hati. Allah SWT telah berjanji kepada seseorang yang berjuang dengan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan hidayah akan diberikannya. Dan tidak mustahil seseorang dikurniakan hidayah jika ia telah melepasi sebab-sebab yang telah dinyatakan dalam Al-Quran. Pada masa yang sama mengawasi diri agar halangan-halangan cahaya hidayah untuk masuk ke dalam lubuk hatinya dijauhi dengan sedaya-upaya dan sepanjang masa kerana Allah SWT tidak sekali-kali menjadikan dua hati setiap rongga dada seorang manusia untuk menempatkan dua perkara yang berbeza sebagaimana firman-Nya di dalam surah al-Ahzab ayat 4.

1. Manusia dalam mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi, senantiasa dipantau dan dikontrol oleh Allah SWT.
2. Para ulama dan ahli agama membagi hidayah Allah ke dalam empat macam dengan tahapan yang bertingkat. Pertama adalah naluri, Kedua pancaindra, Ketiga akal dan yang Keempat adalah agama.
3. Hidayah dalam Islam berfungsi untuk menjadikan manusia mampu mencapai ridha dari Allah SWT yang senang dan disenangi serta menjadi insan-insan syakur.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk lebih semangat mengusahakn sebab-sebab datangnya hidayah dari Allah Ta’ala. Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Ta’ala dengan semua nama-Nya yang maha indah dan sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia Ta’ala senantiasa melimpahkan, menyempurnakan dan menjaga taufik-Nya kepada kita semua sampai kita berjumpa dengan-Nya di surga-Nya kelak, sesungguhnya Dia Ta’ala maha mendengar.

Daftar Pustaka

https://muslim.or.id/19131-makna-dan-hakikat-hidayah-allah.html

https://dalamislam.com/landasan-agama/tauhid/hidayah-allah-kepada-manusia

https://fis.uii.ac.id/2007/02/16/hidayah-tuhan-untuk-semua/

https://prodibpi.wordpress.com/2010/08/19/konsep-hidayah-dalam-islam/

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: